This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

Pages

Senin, 09 Mei 2016

Gelar Yang Tak Tahu Arah

Gelar… kemana engkau akan pergi? Berpendidikan tapi kesana kemari?

Jika berbicara soal dunia kerja, pasti dong kita sering temui seseorang yang memiliki pekerjaan tetapi tidak sesuai dengan gelar yang dia punya. S.E, S.Pd, S.H, S.T, dan lain-lain. Entah itu keluarga kita, teman, sahabat, tetangga, ataupun orang-orang disekitar kita. Lulusan keperawatan malah bekerja di perbankan, lulusan ekonomi bekerja di IT. Pasti pertanyaan yang muncul adalah, ko pekerjaannya tidak sesuai dengan gelar yang dia punya? Ko gak nyambung sih sama disiplin ilmunya? Apa tidak percuma kuliah tinggi-tinggi tapi sekedar itu saja ?
Duh.. pertanyaan-pertanyaan ini sepertinya tidak asing ya di telinga kita.

Menurut saya, pekerjaan yang tak sesuai gelar sah-sah saja ko, tidak ada masalah. Selama pekerjaan itu bermanfaat, disenangi, digemari, dan mendukung kebutuhan pribadi. Mengapa tidak? Toh juga ilmu yang kita dapat dalam proses mencapai gelar tersebut, tidak terbuang percuma, bisa menunjang pekerjaan yang sedang kita geluti. Bukan berarti  saya mengartikan gelar itu tidak penting, gelar juga penting. Tapi untuk kenyataan yang kita lihat saat ini, pekerjaan tak sesuai gelar tidak masalah.

Gelar itu kan sebenarnya hanya pemberian tanda untuk seseorang yang telah menempuh proses belajar. Pengalaman belajarnya yang menjadi penting disini. Bukannya malah gelar dijadikan nasib dari latar belakang disiplin ilmunya.

Dijaman seperti ini, mencari pekerjaan itu sangat sangat susah. Setuju gak? Gak jaman ada gengsi-gengsian. Bekerja di wilayah yang salah alamat bukan berarti sesuatu yang tidak wajar. Mengapa mesti menutup diri? Malu? Mungkin dari awal karena kesalahan dari pribadi kita sendiri saat memilih jurusan di perkuliahan. Atau saat memilih jurusan memang bukan dari hati nurani kita? Ada paksaan dari orang tua? Ya.. mungkin saja.

Tetapi tak jarang juga kita temui, keluhan-keluhan dari orang-orang yang meniti kariernya sejalan dengan gelar yang menempel. Ada yang bekerja setengah hati, males-malesan, tidak maksimal, cepat bosan. Ya itu tadi, karena memang mungkin pekerjaannya tidak sesuai dengan yang ia sukai. Untuk orang yang sukses meniti karier yang tidak salah alamat, yaa.. bersyukur lah.

Ada juga bukti dilapangan, kesuksesan seseorang tidak dilihat dari gelar yang ia punya. Malah mereka tidak mempunyai gelar, tapi malah sukses dalam kariernya. Seperti dunia seni peran, teknologi informasi, sales, dan lain-lain.

Jadi, kesimpulannya adalah bagaimana kita mencoba terus belajar dengan apa yang kita lakukan untuk mencapai tujuan (pilihan) kita, jadilah pribadi yang rendah diri. Jangan cepat puas, lakukan apa yang kamu suka, selama itu memiliki peranan penting untuk masa depan kita.





Terimakasih…J
Sumber gambar : https://www.google.co.id/search?q=gelar&source=lnms&tbm=isch&sa=X&ved=0ahUKEwiwmo2ZoM3MAhXEKJQKHW3cBjAQ_AUIBygB&biw=1242&bih=615#imgrc=nUEl0vKID95ExM%3A

Selasa, 26 April 2016

Mengulik Tradisi "NGURISAN" ala Sasak

Mengulik tradisi ngurisan ala sasak, tentunya memiliki berbagai pola dalam setiap kegiatannya dan ada makna-makna tyersendiri yang bisa diambil dari kegiatan yang dilakukan.
Di daerah tempat tinggal saya tepatnya di desa Nyurlembang, Kecamatan Narmada dikenal adanya suatu kebiasaan atau tradisi NGURISAN dalam bahasa disini disebut BEKEKAH. Tradisi ngurisan (bekekah) atau sering disebut potong rambut pertama pada anak pertama dan seterusnya merupakan salah satu tradisi yang dilakukan hampir diseluruh pelosok Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya yang beragama muslim.
Ngurisan akan dilakukan pada anak laki-laki dan anak perempuan yang baru berumur 3 bulan (tradisi di keluarga saya). Tetapi ada juga yang kurang dari satu bulan atau lebih tergantung kemampuan dari keluarga. Bayi itu akan dicukur rambutnya di mushola, masjid, atau tempat tinggal (rumah) sang bayi. Untuk anak laki-laki mengorbankan kambing sebanyak 2 ekor, dan untuk perempuan 1 ekor kambing
Sebelum prosesi ngurisan, didaerah tempat tinggal saya ada yang unik untuk dipersiapkan. Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan bahan makanan. Persiapan ini dilakukan 4 hari sebelum acara puncak. Biasanya diisi dengan membuat jajan yang natinya akan disajikan ke tamu undangan. Membuat jajan ini dilakukan secara bersama-sama dengan tetangga dan kerabat. Jajan yang wajib ada ketika acara ini adalah RENGGI dan OPE-OPE. Mengapa renggi dan ope-ope ini harus ada, karena dengan adanya makanan wajib seperti ini masyarakat disamakan kedudukannya. Tidak ada yang namanya perbedaan kedudukan antara yang miskin ataupun kaya. Semua dianggap mampu dalam mengadakan acara ini. Adapun makanan-makanan lain bisa apa saja, semampu yang mengadakan acara. Makanan-makanan ini nanti akan dijadikan sebagai PESAJIQ (sajian) ditempatkan diatas nampan yang biasanya disebut DULANG. Makanan-makanan seperti buah, jajan, kue, nasi, dan lauk pauknya di susun rapi menggunakan piring diatas nampan.
Dulang ini nantinya dijadikan untuk ROAH (zikir). Sebelum hari H atau hari puncak dalam prosesi ngurisan, terlebih dahulu dilakukan MESILAQ (undangan). Dalam mesilaq biasanya orang yang diundang hanya sekedarnya saja, tidak banyak. Kurang lebih 50 orang untuk warga kampung dan ditambah dengan tetangga dan kerabat dekat.
Ketika hari H datang, warga sekitar yang wanita datang berbondong-bondong untuk BEGAWE membawa beras atau gula. Yang datang begawe ini hanya para tetangga, kerabat, dan tamu undangan, tidak semua warga. Tamu undangan yang datang ini langsung disajikan makanan dan minuman kopi atau teh ditemani dengan tuan rumah yang mengadakan acara. Untuk para tetangga yang turut membantu dalam menyiapkan makanan untuk acara ini, biasanya makan bersama (BEGIBUNG).
Sebelum prosesi, dipersiapkan terlebih dahulu alat-alat yang digunakan nantinya dalam memotong rambut bayi. Seperti :
  1.  Kolong kuninganKolong kuningan ini diisi dengan air (nantinya untuk mengusap rambut sang bayi), rampe (bunga-bungaan), uang logam. Kelong kuningan ini mengandung makna agar anak nantinya bisa menjadi seseorang yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain.
  2. Gunting
  3. Kemaliq 2 helai (selendang panjang kecil)
Setelah tamu undangan dan para kiai telah lengkap datang, maka ngurisan pun dimulai. Bayi digendong oleh ayah atau pamannya memutar mengelilingi para tamu undangan dan ditemani oleh 2 orang kerabat, 1 orang membawa alat-alat yang telah disebutkan diatas, dan 1 orangnya lagi membawa uang pecahan 2 ribuan atau 5 ribuan biasanya disebut SELAWAT yang nantinya uang tersebut di masukkan ke kantong para tamu undangan yang ikut serta dalam memotong rambut sang bayi. Tradisi ngurisan dilakukan dengan cara memotong rambut bayi pada bagian ubun-ubun terlebih dahulu oleh para tokoh agama sebagai simbol bahwa segala sesuatu yang tidak baik yang dibawa dari dalam rahim sudah dibuang atau diangkat. Satu-persatu tamu undangan memotong sedikit demi sedikit rambut sang bayi, rambut yang dipotong ini dimasukkan kedalam kolong kuningan yang telah disediakan sambil membaca selakar.
Setelah usai prosesi memotong rambut bayi ini, dilanjutkan dengan memotong KEMALIQ (selendang panjang sebanyak 2 helai) lalu diikat dikepala sang bayi. Pemotongan dan pengikatan kemaliq ini sebagai tanda telah selesai bekuris (BEKEKAH).Maka dilanjutkan dengan ZIKIR
Semua acara atau prosesi ngurisan telah selesai dilakukan maka tamu undangan disajikan dulang yang telah disediakan. 1 dulang untuk 3 sampai 4 orang. Dulang untuk penamat disiapkan 2 . Dulang penamat hanya berisikan buah-buahan dan segala jenis makanan, berbeda dengan dulang yang disantap oleh para tamu undangan usai zikiran. Dulang penamat ini nantinya akan dibagikan untuk orang-orang atau tamu undangan yang ikut ngurisan untuk dibawa pulang.
Ternyata apabila kita cermati, banyak sekali hal-hal yang dapat kita pelajari dari tradisi ini. banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya, seperti :
1. Nilai sosial
  Memperkuat tali silahturahmi diantara anggota masyarakat, mempererat hubungan kasih sayang antar individu masyarakat dengan turut hadir menikmati sajian, membuat sanak kerabat, sahabat, tetangga dan keluarga berkumpul untuk sama-sama saling mendoakan sang bayi, sebagai bentuk pengenalan orang tua bahwa anaknya menjadi bagian dari masyarakat yang terikat, dan juga dalam tradisi ini juga terdapat nilai gotong royong, dimana tetangga atau kerabat saling membantu dalam mempersiapkan acara, dan mengurangi pengeluaran keluarga dengan datang membawa beras atau gula.
2. Nilai Religi
Dilakukan ngurisan merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah, sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang di anugerahkan Allah dengan lahirnya sang anak, sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syariat islam, nilai kerohanian yang lain bisa terwujud dengan adanya zikir, dan pembacaan kitab suci al-quran
3. Nilai Pendidikan
Melalui akikah, anak diajarkan melalui pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan dalam tradisi akikah ini. Baik untuk pendidikan akhlak, pendidikan keimanan, serta pendidikan social, sebagai wujud atau proses pengenalan terhadap lingkungan masyarakat kepada anak sejak dini.
4. Nilai Ekonomi
Sebagai jaminan dalam menghapus kemiskinan di masyarakat, dimana dalam aqiqah memerlukan binatang aqiqah yang harus dicari melalui jalan bekerja sama,meningkatkan gizi masyarakat karena hewan aqiqah yang telah disembelih dan dimasak selanjutnya akan di sedekahkan dagingnya kepada para tetangga dan masyarakat lainnya.




Teknik pengumpulan data : wawancara dan observasi di nyurlembang daye, dengan narasumber Budi Ayu. Pada hari Senin, 25 April 2015

Rabu, 13 April 2016

Dimana-mana ada “FAKIR WIFI”

Fakir Wifi? Hmm.. sepertinya sebutan ini cocok ya untuk kita para pemburu wifi, hee… apalagi gratis. Mungkin ini dijadikan sebagai tradisi bagi kalangan seperi kita (mahasiswa)

Wifi yaitu sebuah media penghantar komunikasi data tanpa kabel yang bisa digunakan untuk komunikasi atau mentransfer program dan data dengan kemampuan yang sangat cepat.  Sedangkan untuk penggunaan internet, wifi memerlukan sebuah titik akses yang biasa disebut dengan hotspot untuk menghubungkan dan mengontrol  antara pengguna wifi dengan jaringan internet pusat. (1)

Nah, wifi ini biasanya sering kita temukan di tempat-tempat makan, kampus, hotel, sekolah,ataupun pengguna rumahan. Mungkin warnet sekarang sudah tidak terlalu diincar.

Tidak bisa dipungkiri bahwa koneksi internet menjadi kebutuhan setiap harinya. Terlebih saya sebagai mahasiswa, koneksi internet memang harus selalu ada setiap hari untuk mengecek beberapa kiriman tugas melalui e-mail yang dikirim dosen. Jadi bukan hanya semata-mata untuk hiburan saja, tapi dimanfaatkan ke hal-hal positif.

Seperti halnya dikampus, mahasiswa rela duduk berjam-jam sampai ralut malam pantengin laptop untuk internetan. Alasanya sih ingin mencari bahan tugas kuliah, tapi tidak cuma itu dimemanfaatkan juga untuk download film, lagu, buka socmed,streaming youtube, yaa.. meskipun sering lelet tapi harus sabar. Itung-itung ngurangin budget dan menghemat kuota tentunya. Di tempat-tempat makan juga sering kita temui, hanya sekedar membeli minuman lima ribuan atau sepuluh ribuan, udah bisa internetan sepuasnya. Padahal bukan karna makanan atau minumannya yang enak-enak, tapi karena koneksinya kenceng (anti lemot). Hee…

Banyak sekali tempat-tempat yang menyediakan tempat wifi gratis, sekarang bagaimana cara kita sebagai fakir wifi yang anti mubazir mencari tempat-tempat tersebut. Yang bisa dilakukan adalah menambah kenalan agar informasi seputar wifi gratis dan anti lemot bisa kita jangkau. Menjadi fakir wifi sebenarnya sah-sah saja ya, daripada jadi fakir asmara. -_-“





Referrensi :
(1)  http://www.indraservicelaptop.com/2014/04/pengertian-wifi-dan-fungsinya.html

(2) Sumber gambar : https://www.google.co.id/searchbiw=1517&bih=704&tbm=isch&sa=1&q=fakir+wifi&oq=fakir+wifi&gs_ 

Selasa, 05 April 2016

“Belangar” Wujud Pendidikan Kearifan Local Sasak

Sampai saat ini suku sasak Lombok masih kental dengan budaya dan adat istiadat yang masih dijalani. Karena hal ini menjadi sebuah kebiasaan dari zaman dahulu, sehingga sampai sekarang terus dilaksanakan . salah satunya adalah dalam upacara kematian yaitu adat belangar orang yang sudah meninggal. Kedatangan masyarakat ke tempat acara kematian tersebut disebut langar (melayat).
Belangar disini merupalan salah satu bentuk dari rasa solidaritas dan dalam tradisi ini menyimpan pesan moral dan pendidikan yang cukup arif. Tradisi ini mengajarkan kita semua untuk saling peduli terhadap sesama, selalu bekerjasama, menumbuhkan rasa persauudaraan/kekeluargaan.
Kegiatan belangar tersebut dilaksanakan ketika sang mayit belum dikubur atau belum masuk di liang lahat Pada umumnya, dalam belangar ini masyarakat datang membawa beras, gula, dan uang seadanya guna membantu meringankan beban yang terkena musibah. Uang, beras, dan gula  yang didapatkan dari pelangar akan digunakan untuk menyelenggarakan acara selanjutnya yaitu acara gawe pati (upacara kematian seseorang), mulai dari hari pemakaman, nelung, mituq, nyiwaq, dan seterusnya. Misalnya, digunakan untuk membeli ikan/daging serta kebutuhan-kebutuhan lainnya sebagai bahan masakan yang akan disuguhkan untuk setiap tamu yang menghadiri acara kematian tersebut.
Tidak bisa dipungkiri, mengapa tradisi ini masih terjaga sampai sekarang. Alasanya karena tradisi ini yang berguna sekali dalam kehidupan social masyarakat, sehingga harus dilestarikan. Dengan tradisi belangar ini dapat merpererat silaturahmi, menumbuhkan semangat gotong royong, peduli, bekerjasama, dan merpererat kekeluargaan. Banggalah menjadi salah seorang bagian dari suku sasak yang mempunyai kearifan local yang bernilai tinggi, yang belum tentu dimiliki oleh suku lain.



Senin, 28 Maret 2016

Masalahnya Masalah Disiplin


Salah satu topic yang senantiasa menjadi perbincangan hangat dalam kehidupan sehari-hari adalah masalah kedisiplinan. Di dunia pendidikan tak henti-hentinya berbicara mengenai disiplin, bisa dilihat dari adanya keikutsertaan nilai karakter disiplin dalam kurikulum yang bermuatan pendidikan karakter. Disiplin berarti melatih diri untuk melakukan sesuatu dengan teratur dan tertib. Berbicara tentang kedisiplinan, tidak lepas dari perilaku-perilaku yang menyimpang, akibat tidak menerapkannya.
Untuk mencapai sukses dalam menjalankan kedisiplinan sangat sulit bisa diciptakan. Terlebih bagi penulis (saya) sangat sulit menerapkan salah satu karakter ini dan membutuhkan proses yang cukup sulit dalam mempraktekkannya.
Disiplin sebenarnya bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan dari luar, tetapi dari dalam dan dijadikan sebagai sebuah budaya. Namun dalam prakteknya ternyata, perlu perjuangan yang cukup berat, sehingga ujung-ujungnya seringkali melenceng dari yang diharapkan. Misalnya saja, sering kita jumpai adanya budaya titip absen di kalangan mahasiswa. Jelas ini terlihat bahwa, nilai karakter disiplin tersebut hanya sebagai sesuatu yang dianggap paksaan dari luar, karena tidak benar-benar diterapkan dalam setiap proses yang dilakukan. Contoh lain, aturan yang menyebutkan bahwa dosen yang terlambat lebih dari 15 menit dianggap tidak masuk atau tidak hadir, tapi nyatanya masih saja ada dosen yang masuk seenaknya tanpa memperhatikan jadwal yang telah ditetapkan. Istilahnya, yang berkuasa membuat aturan malah dia yang melanggarnya.
Orang yang memiliki kebutuhan atau kepentingan terhadap suatu hal pasti akan terdorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sama halnya dengan dengan disiplin diri, ketika disiplin itu dianggap sebagai sebuah kebutuhan maka akan ada keharusan untuk mencapainya, sebaliknya apabila disiplin itu tidak menjadi sebuah kebutuhan sekedar paksaan maka akan dilakukan dengan bermalas-malasan.
Disiplin akan bisa berjalan apabila pertama, kita memahami bahwa disiplin itu akan terbentuk melalui tindakan nyata yang dilakukan secara berulang-ulang dijadikan sebagai suatu kebiasaan. Kedua, memiliki komitmen/konsisten dan motivasi untuk mewujudkan tindakan tersebut.
Karena itu, tak heran kalau masalah disiplin ini tak pernah selesai, bahkan menjadi masalah yang kronis. Kita hanya dapat menyelesaikannya dengan cara berpikir, bangun motivasi, berkotmitmen, bertindak, lalu ciptakan budaya nyata disiplin tersebut dalam kehiduupan sehari-hari.


Referensi :
http://aquariuslearning.co.id/4-langkah-mudah-membangun-disiplin-diri-yang-kuat/ http://mymotivation.blogspot.co.id/2013/07/membangun-disiplin-diri.html repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23401/4/Chapter%20II.pdf

(diakses pada tanggal 28-03-2016, pukul 09-00)

Selasa, 22 Maret 2016

MEMFUNGSIKAN KOLABORASI IQ,EQ, DAN SQ SEBAGAI GURU/CALON GURU

Apa itu IQ, EQ, dan SQ? Mari kita pahami terlebih dahulu.
Kecerdasan intelektual (IQ). Menurut Stephen R. Covey, IQ adalah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan mentalitas, yaitu kecerdasan untuk menganalisis, berfikir, menentukan kausalitas, berfikir abstrak, bahasa, visualisasi, dan memahami sesuatu. Dengan kata lain IQ dapat diartikan sebagai ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika seseorang yang merupakan kecerdasan otak.
Kecerdasan Emosional (EQ) merupakan model kecerdasan emosional yang dimilki manusia sebagai identtitas kepribadiannya dalam memahami perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengendalikan suasana hati, dan kemampuan dalam menyelesaikan konflik.
Kecerdasan Spiritual (SQ) diartikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi peroalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalan konteks makna yang lebih luas dan kaya. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita. (Ary Ginanjar Agustian, 2007). Secara sederhana SQ berperan dalam memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat (suara hati ilahiyah).
Berdasarkan uraian diatas, jika kita kaitkan dengan profesi guru tentu sangat memberikan pengaruh yang besar. Disinilah peran pendidik (guru) sangat diperlukan, sebab, sebagian besar orang tua peserta didik menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab mendidik kepada guru. Memfungsikan kolaborasi antara IQ, EQ, dan SQ bagi seorang guru menjadi suatu keharusan dan tantangan tersendiri dalam rangka mengoptimalkan proses pembelajaran di dunia pendidikan saat ini.
Mungkin kita sering mendengar, para pendidik (guru) bekerja sebagai pendidik hanya untuk memperoleh penghasilan (materi) bukan dengan tujuan untuk mendapatkan kepuasan batin. Guru hanya memikirkan bagaimana memberikan pengajaran ilmu pengetahuan tanpa memberikan pengajajaran budi pekeri atau sikap perilaku anak didiknya.
Apabila seorang guru lebih mementingkan salah satunya dan meninggalkan elemen lain, akibatnya terjadi ketidakseimbangan pada dirinya dalam pembentukan kecerdasan secara sempurna. Ketiga elemen ini secara fungsinya tidak dapat dipisahkan, karena bekerja dalam satu system yang saling berkaitan dan bekerja sama dalam diri manusia.
Kalau kita perhatikan lagi, banyak terjadi kemerosotan moral dan imej guru menjadi tidak baik di dunia pendidikan, misalnya fenomena guru yang disuap, kekerasan seksual, penyelewangan dana pendidikan,membocorkan jawaban ujian, dan lain-lain. Ini terjadi karena tidak memfungsikan dan menyeimbangkan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) dengan baik. Akibatnya guru tersebut tersingkir dalam kariernya dan termasuk golongan yang rendah EQ dan SQnya.
Memang benar, tanpa IQ yang baik seorang guru tidak dapat mentransfer ilmunya dan mendidik siswa-siswanya, tetapi seorang guru tidak hanya ditugaskan untuk memberikan dan menyampaikan pengetahuan, karena bukan itulah tujuan dari pembelajaran, tetapi harus mampu mentransfer nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai religius kepada peserta didik. Untuk itu kita sebagai guru atau calon guru, harus mampu memfungsikan IQ,EQ,dan SQ, agar mampu melahirkan kembali generasi-generasi penerus yang memiliki kecerdasan otak  tinggi dan juga memiliki sikap, moral, dan tingkah laku yang luhur.
Learning to do, learning to know (IQ), learning to be (SQ), and learning to live together (EQ)





Referensi :
Ginanjar, Ary, ESQ POWER. Jakarta: Arga, 2003.

http://cyclox-share.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-iq-eq-sq-aq-cq-dan-esq.html

Selasa, 15 Maret 2016

Wabah "GP"

Apa itu GP? Siapakah yang disebut GP?
GP (Generasi Penunduk)

Nah, istilah ini sangat cocok diberikan kepada generasi muda saat ini yang haus akan gadget dan teknologi. Kini, keberadaan gadget dan teknologi seakan-akan menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Di segala aktivitaspun, gadget dianggap sebagai kebutuhan primer oleh kebanyakan orang. Benarkah demikian?

Salah satu penyebab kehausan akan gadget dan tekonologi ini adalah gaya hidup yang konsumtif. Sehingga, para produsen elektronik berlomba-lomba dengan inovasinya melahirkan gadget-gadget dengan teknologi pintarnya dengan keberadaan fitur-fitur yang canggih membuat orang-orang semakin tergiur dan mau tidak mau mengikuti arus perkembangan teknologi.

Gadget dan teknologi sangat berperan aktif dalam kehidupan manusia, namun tidak jarang dimanfaatkan sesuai dengan fungsi sebenarnya. Menjamurnya penggunaan gadget pada era globalisasi tidak memandang usia, profesi ataupun pekerjaan. Bahkan usia anak-anak sudah bisa mengaksesnya. 

Cobalah lihat di sekeliling kita. Sahabat, teman, guru, dosen, orang tua kit, pedagang-pedagang dipinggir jalan ayang sering kita temui menunduk asyik menatap layar smartphone mereka. Itu merupakan contoh sederhana semakin mewabahnya generasi penunduk. Orang-orang di sekeliling kita sibuk dengan smarthphone yang ada di genggaman mereka, sibuk dengan update-update an mereka di social media. Seakan-akan layar smartphone menjadi konsumsi mata setiap saat. Sehari tanpa gadget hampir tidak bisa.

Tidak bisa dipungkiri, sebagian besar dari kita menganggap bahwa tujuan utama penggunaan gadget dan teknologi ini semata-mata sebagai alat komunikasi untuk menyambung tali silaturahmi.

Seperti layaknya dosis yang terdapat dalam obat. Pemberian dosis yang kurang atau berlebihan pasti akan menimbulkan efek. Tetapi jika dosis itu memiliki kesesuaian, akan mampu menyembuhkan. Sama halnya dengan gadget dan teknologi, apabila digunakan secara berlebihan (ketergantungan) akan berdampak negative bagi penggunanya.

Misalnya, digunakan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat akan menyebabkan pengeluaran bertambah, mengubah sikap dan perilaku seseorang, lingkungan sekitar dirasa tidak penting lagi dibandingkan dengan gadget, berdampak buruk bagi kesehatan (efek radiasi), mengundang aksi tindak kejahatan. Contoh sederhanaya, pada saat berkendaraan, berjalan-jalan, tidak kenal tempat dan waktu ketika mempergunakan gadget, karena terlalu focus dengan gadget yang dibawanya tidak peduli dengan orang-orang di sekitar, sehingga mengundang aksi pencurian.

Namun, apabila gadget dan teknologi tersebut dipergunakan dengan dosis yang sesuai. Maka, keberadaannya sangat menguntungkan, memberi manfaat, mendukung segala aktivitas, memudahkan komunikasi, memperluas jalinan persahabatan, mempermudah memperoleh informasi, mempermudah  kegiatan manusia, dan masih banyak lagi.

So.. look up guys.

Pergunakan dengan sewajarnya, cerdas dalam memanfaatkannya, jadilah pemakai yang positif, dan jangan sampai diperbudak oleh gadget.