Salah
satu topic yang senantiasa menjadi perbincangan hangat dalam kehidupan
sehari-hari adalah masalah kedisiplinan. Di dunia pendidikan tak henti-hentinya
berbicara mengenai disiplin, bisa dilihat dari adanya keikutsertaan nilai
karakter disiplin dalam kurikulum yang bermuatan pendidikan karakter. Disiplin berarti
melatih diri untuk melakukan sesuatu dengan teratur dan tertib. Berbicara tentang
kedisiplinan, tidak lepas dari perilaku-perilaku yang menyimpang, akibat tidak
menerapkannya.
Untuk
mencapai sukses dalam menjalankan kedisiplinan sangat sulit bisa diciptakan. Terlebih
bagi penulis (saya) sangat sulit menerapkan salah satu karakter ini dan membutuhkan
proses yang cukup sulit dalam mempraktekkannya.
Disiplin
sebenarnya bukan sebagai sesuatu yang dipaksakan dari luar, tetapi dari dalam
dan dijadikan sebagai sebuah budaya. Namun dalam prakteknya ternyata, perlu
perjuangan yang cukup berat, sehingga ujung-ujungnya seringkali melenceng dari
yang diharapkan. Misalnya saja, sering kita jumpai adanya budaya titip absen di
kalangan mahasiswa. Jelas ini terlihat bahwa, nilai karakter disiplin tersebut
hanya sebagai sesuatu yang dianggap paksaan dari luar, karena tidak benar-benar
diterapkan dalam setiap proses yang dilakukan. Contoh lain, aturan yang
menyebutkan bahwa dosen yang terlambat lebih dari 15 menit dianggap tidak masuk
atau tidak hadir, tapi nyatanya masih saja ada dosen yang masuk seenaknya tanpa
memperhatikan jadwal yang telah ditetapkan. Istilahnya, yang berkuasa membuat
aturan malah dia yang melanggarnya.
Orang
yang memiliki kebutuhan atau kepentingan terhadap suatu hal pasti akan
terdorong untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Sama halnya dengan dengan disiplin
diri, ketika disiplin itu dianggap sebagai sebuah kebutuhan maka akan ada keharusan
untuk mencapainya, sebaliknya apabila disiplin itu tidak menjadi sebuah
kebutuhan sekedar paksaan maka akan dilakukan dengan bermalas-malasan.
Disiplin
akan bisa berjalan apabila pertama, kita memahami bahwa disiplin itu akan
terbentuk melalui tindakan nyata yang dilakukan secara berulang-ulang dijadikan
sebagai suatu kebiasaan. Kedua, memiliki komitmen/konsisten dan motivasi untuk
mewujudkan tindakan tersebut.
Karena
itu, tak heran kalau masalah disiplin ini tak pernah selesai, bahkan menjadi
masalah yang kronis. Kita hanya dapat menyelesaikannya dengan cara berpikir, bangun
motivasi, berkotmitmen, bertindak, lalu ciptakan budaya nyata disiplin tersebut
dalam kehiduupan sehari-hari.
Referensi
:
http://aquariuslearning.co.id/4-langkah-mudah-membangun-disiplin-diri-yang-kuat/
http://mymotivation.blogspot.co.id/2013/07/membangun-disiplin-diri.html repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23401/4/Chapter%20II.pdf
(diakses
pada tanggal 28-03-2016, pukul 09-00)







0 komentar:
Posting Komentar