Apa
itu IQ, EQ, dan SQ? Mari kita pahami terlebih dahulu.
Kecerdasan
intelektual (IQ). Menurut Stephen R. Covey, IQ adalah kecerdasan manusia yang
berhubungan dengan mentalitas, yaitu kecerdasan untuk menganalisis, berfikir,
menentukan kausalitas, berfikir abstrak, bahasa, visualisasi, dan memahami
sesuatu. Dengan kata lain IQ dapat diartikan sebagai ukuran kemampuan
intelektual, analisis, logika seseorang yang merupakan kecerdasan otak.
Kecerdasan
Emosional (EQ) merupakan model kecerdasan emosional yang dimilki manusia sebagai
identtitas kepribadiannya dalam memahami perasaan orang lain, memotivasi diri
sendiri, mengendalikan suasana hati, dan kemampuan dalam menyelesaikan konflik.
Kecerdasan
Spiritual (SQ) diartikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi peroalan makna
atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalan
konteks makna yang lebih luas dan kaya. SQ adalah landasan yang diperlukan
untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ merupakan kecerdasan tertinggi
kita. (Ary Ginanjar Agustian, 2007). Secara sederhana SQ berperan dalam
memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat (suara hati ilahiyah).
Berdasarkan
uraian diatas, jika kita kaitkan dengan profesi guru tentu sangat memberikan
pengaruh yang besar. Disinilah peran pendidik (guru) sangat diperlukan, sebab, sebagian
besar orang tua peserta didik menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab mendidik
kepada guru. Memfungsikan kolaborasi antara IQ, EQ, dan SQ bagi seorang guru
menjadi suatu keharusan dan tantangan tersendiri dalam rangka mengoptimalkan
proses pembelajaran di dunia pendidikan saat ini.
Mungkin
kita sering mendengar, para pendidik (guru) bekerja sebagai pendidik hanya
untuk memperoleh penghasilan (materi) bukan dengan tujuan untuk mendapatkan
kepuasan batin. Guru hanya memikirkan bagaimana memberikan pengajaran ilmu
pengetahuan tanpa memberikan pengajajaran budi pekeri atau sikap perilaku anak
didiknya.
Apabila
seorang guru lebih mementingkan salah satunya dan meninggalkan elemen lain,
akibatnya terjadi ketidakseimbangan pada dirinya dalam pembentukan kecerdasan
secara sempurna. Ketiga elemen ini secara fungsinya tidak dapat dipisahkan,
karena bekerja dalam satu system yang saling berkaitan dan bekerja sama dalam
diri manusia.
Kalau
kita perhatikan lagi, banyak terjadi kemerosotan moral dan imej guru menjadi
tidak baik di dunia pendidikan, misalnya fenomena guru yang disuap, kekerasan
seksual, penyelewangan dana pendidikan,membocorkan jawaban ujian, dan lain-lain.
Ini terjadi karena tidak memfungsikan dan menyeimbangkan kecerdasan intelektual
(IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) dengan baik.
Akibatnya guru tersebut tersingkir dalam kariernya dan termasuk golongan yang
rendah EQ dan SQnya.
Memang
benar, tanpa IQ yang baik seorang guru tidak dapat mentransfer ilmunya dan mendidik
siswa-siswanya, tetapi seorang guru tidak hanya ditugaskan untuk memberikan dan
menyampaikan pengetahuan, karena bukan itulah tujuan dari pembelajaran, tetapi
harus mampu mentransfer nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai religius kepada
peserta didik. Untuk itu kita sebagai guru atau calon guru, harus mampu
memfungsikan IQ,EQ,dan SQ, agar mampu melahirkan kembali generasi-generasi
penerus yang memiliki kecerdasan otak
tinggi dan juga memiliki sikap, moral, dan tingkah laku yang luhur.
Learning to do, learning to know (IQ), learning to be
(SQ), and learning to live together (EQ)
Referensi :
Ginanjar, Ary, ESQ POWER. Jakarta: Arga, 2003.
http://cyclox-share.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-iq-eq-sq-aq-cq-dan-esq.html







0 komentar:
Posting Komentar