Pages

Selasa, 22 Maret 2016

MEMFUNGSIKAN KOLABORASI IQ,EQ, DAN SQ SEBAGAI GURU/CALON GURU

Apa itu IQ, EQ, dan SQ? Mari kita pahami terlebih dahulu.
Kecerdasan intelektual (IQ). Menurut Stephen R. Covey, IQ adalah kecerdasan manusia yang berhubungan dengan mentalitas, yaitu kecerdasan untuk menganalisis, berfikir, menentukan kausalitas, berfikir abstrak, bahasa, visualisasi, dan memahami sesuatu. Dengan kata lain IQ dapat diartikan sebagai ukuran kemampuan intelektual, analisis, logika seseorang yang merupakan kecerdasan otak.
Kecerdasan Emosional (EQ) merupakan model kecerdasan emosional yang dimilki manusia sebagai identtitas kepribadiannya dalam memahami perasaan orang lain, memotivasi diri sendiri, mengendalikan suasana hati, dan kemampuan dalam menyelesaikan konflik.
Kecerdasan Spiritual (SQ) diartikan sebagai kecerdasan untuk menghadapi peroalan makna atau value, yaitu kecerdasan untuk menempatkan perilaku dan hidup kita dalan konteks makna yang lebih luas dan kaya. SQ adalah landasan yang diperlukan untuk memfungsikan IQ dan EQ secara efektif. SQ merupakan kecerdasan tertinggi kita. (Ary Ginanjar Agustian, 2007). Secara sederhana SQ berperan dalam memotivasi seseorang untuk berbuat atau tidak berbuat (suara hati ilahiyah).
Berdasarkan uraian diatas, jika kita kaitkan dengan profesi guru tentu sangat memberikan pengaruh yang besar. Disinilah peran pendidik (guru) sangat diperlukan, sebab, sebagian besar orang tua peserta didik menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab mendidik kepada guru. Memfungsikan kolaborasi antara IQ, EQ, dan SQ bagi seorang guru menjadi suatu keharusan dan tantangan tersendiri dalam rangka mengoptimalkan proses pembelajaran di dunia pendidikan saat ini.
Mungkin kita sering mendengar, para pendidik (guru) bekerja sebagai pendidik hanya untuk memperoleh penghasilan (materi) bukan dengan tujuan untuk mendapatkan kepuasan batin. Guru hanya memikirkan bagaimana memberikan pengajaran ilmu pengetahuan tanpa memberikan pengajajaran budi pekeri atau sikap perilaku anak didiknya.
Apabila seorang guru lebih mementingkan salah satunya dan meninggalkan elemen lain, akibatnya terjadi ketidakseimbangan pada dirinya dalam pembentukan kecerdasan secara sempurna. Ketiga elemen ini secara fungsinya tidak dapat dipisahkan, karena bekerja dalam satu system yang saling berkaitan dan bekerja sama dalam diri manusia.
Kalau kita perhatikan lagi, banyak terjadi kemerosotan moral dan imej guru menjadi tidak baik di dunia pendidikan, misalnya fenomena guru yang disuap, kekerasan seksual, penyelewangan dana pendidikan,membocorkan jawaban ujian, dan lain-lain. Ini terjadi karena tidak memfungsikan dan menyeimbangkan kecerdasan intelektual (IQ), kecerdasan emosional (EQ), dan kecerdasan spiritual (SQ) dengan baik. Akibatnya guru tersebut tersingkir dalam kariernya dan termasuk golongan yang rendah EQ dan SQnya.
Memang benar, tanpa IQ yang baik seorang guru tidak dapat mentransfer ilmunya dan mendidik siswa-siswanya, tetapi seorang guru tidak hanya ditugaskan untuk memberikan dan menyampaikan pengetahuan, karena bukan itulah tujuan dari pembelajaran, tetapi harus mampu mentransfer nilai-nilai kebaikan dan nilai-nilai religius kepada peserta didik. Untuk itu kita sebagai guru atau calon guru, harus mampu memfungsikan IQ,EQ,dan SQ, agar mampu melahirkan kembali generasi-generasi penerus yang memiliki kecerdasan otak  tinggi dan juga memiliki sikap, moral, dan tingkah laku yang luhur.
Learning to do, learning to know (IQ), learning to be (SQ), and learning to live together (EQ)





Referensi :
Ginanjar, Ary, ESQ POWER. Jakarta: Arga, 2003.

http://cyclox-share.blogspot.co.id/2015/09/pengertian-iq-eq-sq-aq-cq-dan-esq.html

0 komentar:

Posting Komentar