Pages

Selasa, 26 April 2016

Mengulik Tradisi "NGURISAN" ala Sasak

Mengulik tradisi ngurisan ala sasak, tentunya memiliki berbagai pola dalam setiap kegiatannya dan ada makna-makna tyersendiri yang bisa diambil dari kegiatan yang dilakukan.
Di daerah tempat tinggal saya tepatnya di desa Nyurlembang, Kecamatan Narmada dikenal adanya suatu kebiasaan atau tradisi NGURISAN dalam bahasa disini disebut BEKEKAH. Tradisi ngurisan (bekekah) atau sering disebut potong rambut pertama pada anak pertama dan seterusnya merupakan salah satu tradisi yang dilakukan hampir diseluruh pelosok Nusa Tenggara Barat (NTB) khususnya yang beragama muslim.
Ngurisan akan dilakukan pada anak laki-laki dan anak perempuan yang baru berumur 3 bulan (tradisi di keluarga saya). Tetapi ada juga yang kurang dari satu bulan atau lebih tergantung kemampuan dari keluarga. Bayi itu akan dicukur rambutnya di mushola, masjid, atau tempat tinggal (rumah) sang bayi. Untuk anak laki-laki mengorbankan kambing sebanyak 2 ekor, dan untuk perempuan 1 ekor kambing
Sebelum prosesi ngurisan, didaerah tempat tinggal saya ada yang unik untuk dipersiapkan. Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan bahan makanan. Persiapan ini dilakukan 4 hari sebelum acara puncak. Biasanya diisi dengan membuat jajan yang natinya akan disajikan ke tamu undangan. Membuat jajan ini dilakukan secara bersama-sama dengan tetangga dan kerabat. Jajan yang wajib ada ketika acara ini adalah RENGGI dan OPE-OPE. Mengapa renggi dan ope-ope ini harus ada, karena dengan adanya makanan wajib seperti ini masyarakat disamakan kedudukannya. Tidak ada yang namanya perbedaan kedudukan antara yang miskin ataupun kaya. Semua dianggap mampu dalam mengadakan acara ini. Adapun makanan-makanan lain bisa apa saja, semampu yang mengadakan acara. Makanan-makanan ini nanti akan dijadikan sebagai PESAJIQ (sajian) ditempatkan diatas nampan yang biasanya disebut DULANG. Makanan-makanan seperti buah, jajan, kue, nasi, dan lauk pauknya di susun rapi menggunakan piring diatas nampan.
Dulang ini nantinya dijadikan untuk ROAH (zikir). Sebelum hari H atau hari puncak dalam prosesi ngurisan, terlebih dahulu dilakukan MESILAQ (undangan). Dalam mesilaq biasanya orang yang diundang hanya sekedarnya saja, tidak banyak. Kurang lebih 50 orang untuk warga kampung dan ditambah dengan tetangga dan kerabat dekat.
Ketika hari H datang, warga sekitar yang wanita datang berbondong-bondong untuk BEGAWE membawa beras atau gula. Yang datang begawe ini hanya para tetangga, kerabat, dan tamu undangan, tidak semua warga. Tamu undangan yang datang ini langsung disajikan makanan dan minuman kopi atau teh ditemani dengan tuan rumah yang mengadakan acara. Untuk para tetangga yang turut membantu dalam menyiapkan makanan untuk acara ini, biasanya makan bersama (BEGIBUNG).
Sebelum prosesi, dipersiapkan terlebih dahulu alat-alat yang digunakan nantinya dalam memotong rambut bayi. Seperti :
  1.  Kolong kuninganKolong kuningan ini diisi dengan air (nantinya untuk mengusap rambut sang bayi), rampe (bunga-bungaan), uang logam. Kelong kuningan ini mengandung makna agar anak nantinya bisa menjadi seseorang yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain.
  2. Gunting
  3. Kemaliq 2 helai (selendang panjang kecil)
Setelah tamu undangan dan para kiai telah lengkap datang, maka ngurisan pun dimulai. Bayi digendong oleh ayah atau pamannya memutar mengelilingi para tamu undangan dan ditemani oleh 2 orang kerabat, 1 orang membawa alat-alat yang telah disebutkan diatas, dan 1 orangnya lagi membawa uang pecahan 2 ribuan atau 5 ribuan biasanya disebut SELAWAT yang nantinya uang tersebut di masukkan ke kantong para tamu undangan yang ikut serta dalam memotong rambut sang bayi. Tradisi ngurisan dilakukan dengan cara memotong rambut bayi pada bagian ubun-ubun terlebih dahulu oleh para tokoh agama sebagai simbol bahwa segala sesuatu yang tidak baik yang dibawa dari dalam rahim sudah dibuang atau diangkat. Satu-persatu tamu undangan memotong sedikit demi sedikit rambut sang bayi, rambut yang dipotong ini dimasukkan kedalam kolong kuningan yang telah disediakan sambil membaca selakar.
Setelah usai prosesi memotong rambut bayi ini, dilanjutkan dengan memotong KEMALIQ (selendang panjang sebanyak 2 helai) lalu diikat dikepala sang bayi. Pemotongan dan pengikatan kemaliq ini sebagai tanda telah selesai bekuris (BEKEKAH).Maka dilanjutkan dengan ZIKIR
Semua acara atau prosesi ngurisan telah selesai dilakukan maka tamu undangan disajikan dulang yang telah disediakan. 1 dulang untuk 3 sampai 4 orang. Dulang untuk penamat disiapkan 2 . Dulang penamat hanya berisikan buah-buahan dan segala jenis makanan, berbeda dengan dulang yang disantap oleh para tamu undangan usai zikiran. Dulang penamat ini nantinya akan dibagikan untuk orang-orang atau tamu undangan yang ikut ngurisan untuk dibawa pulang.
Ternyata apabila kita cermati, banyak sekali hal-hal yang dapat kita pelajari dari tradisi ini. banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya, seperti :
1. Nilai sosial
  Memperkuat tali silahturahmi diantara anggota masyarakat, mempererat hubungan kasih sayang antar individu masyarakat dengan turut hadir menikmati sajian, membuat sanak kerabat, sahabat, tetangga dan keluarga berkumpul untuk sama-sama saling mendoakan sang bayi, sebagai bentuk pengenalan orang tua bahwa anaknya menjadi bagian dari masyarakat yang terikat, dan juga dalam tradisi ini juga terdapat nilai gotong royong, dimana tetangga atau kerabat saling membantu dalam mempersiapkan acara, dan mengurangi pengeluaran keluarga dengan datang membawa beras atau gula.
2. Nilai Religi
Dilakukan ngurisan merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada Allah, sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang di anugerahkan Allah dengan lahirnya sang anak, sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan syariat islam, nilai kerohanian yang lain bisa terwujud dengan adanya zikir, dan pembacaan kitab suci al-quran
3. Nilai Pendidikan
Melalui akikah, anak diajarkan melalui pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai keagamaan dalam tradisi akikah ini. Baik untuk pendidikan akhlak, pendidikan keimanan, serta pendidikan social, sebagai wujud atau proses pengenalan terhadap lingkungan masyarakat kepada anak sejak dini.
4. Nilai Ekonomi
Sebagai jaminan dalam menghapus kemiskinan di masyarakat, dimana dalam aqiqah memerlukan binatang aqiqah yang harus dicari melalui jalan bekerja sama,meningkatkan gizi masyarakat karena hewan aqiqah yang telah disembelih dan dimasak selanjutnya akan di sedekahkan dagingnya kepada para tetangga dan masyarakat lainnya.




Teknik pengumpulan data : wawancara dan observasi di nyurlembang daye, dengan narasumber Budi Ayu. Pada hari Senin, 25 April 2015

0 komentar:

Posting Komentar