Mengulik tradisi ngurisan ala sasak, tentunya memiliki berbagai pola dalam setiap kegiatannya dan ada makna-makna tyersendiri yang bisa diambil dari kegiatan yang dilakukan.
Di daerah tempat tinggal saya tepatnya di desa
Nyurlembang, Kecamatan Narmada dikenal adanya suatu kebiasaan atau tradisi
NGURISAN dalam bahasa disini disebut BEKEKAH. Tradisi ngurisan (bekekah) atau
sering disebut potong rambut pertama pada anak pertama dan seterusnya merupakan
salah satu tradisi yang dilakukan hampir diseluruh pelosok Nusa Tenggara Barat
(NTB) khususnya yang beragama muslim.
Ngurisan akan dilakukan pada anak laki-laki dan
anak perempuan yang baru berumur 3 bulan (tradisi di keluarga saya). Tetapi ada
juga yang kurang dari satu bulan atau lebih tergantung kemampuan dari keluarga.
Bayi itu akan dicukur rambutnya di mushola, masjid, atau tempat tinggal (rumah) sang bayi. Untuk
anak laki-laki mengorbankan kambing sebanyak 2 ekor, dan untuk perempuan 1 ekor
kambing
Sebelum prosesi ngurisan, didaerah tempat tinggal
saya ada yang unik untuk dipersiapkan. Hal pertama yang dilakukan adalah menyiapkan bahan makanan. Persiapan ini
dilakukan 4 hari sebelum acara puncak. Biasanya diisi dengan membuat jajan yang
natinya akan disajikan ke tamu undangan. Membuat jajan ini dilakukan secara bersama-sama
dengan tetangga dan kerabat. Jajan yang wajib ada ketika acara ini adalah RENGGI
dan OPE-OPE. Mengapa renggi dan ope-ope ini harus ada, karena dengan adanya
makanan wajib seperti ini masyarakat disamakan kedudukannya. Tidak ada yang
namanya perbedaan kedudukan antara yang miskin ataupun kaya. Semua dianggap
mampu dalam mengadakan acara ini. Adapun makanan-makanan lain bisa apa saja,
semampu yang mengadakan acara. Makanan-makanan ini nanti akan dijadikan sebagai
PESAJIQ (sajian) ditempatkan diatas nampan yang biasanya disebut DULANG.
Makanan-makanan seperti buah, jajan, kue, nasi, dan lauk pauknya di susun rapi
menggunakan piring diatas nampan.
Dulang ini nantinya dijadikan untuk ROAH (zikir).
Sebelum hari H atau hari puncak dalam prosesi ngurisan, terlebih dahulu
dilakukan MESILAQ (undangan). Dalam mesilaq biasanya orang yang diundang hanya
sekedarnya saja, tidak banyak. Kurang lebih 50 orang untuk warga kampung dan
ditambah dengan tetangga dan kerabat dekat.
Ketika hari H datang, warga sekitar yang wanita datang
berbondong-bondong untuk BEGAWE membawa beras atau gula. Yang datang begawe ini
hanya para tetangga, kerabat, dan tamu undangan, tidak semua warga. Tamu
undangan yang datang ini langsung disajikan makanan dan minuman kopi atau teh
ditemani dengan tuan rumah yang mengadakan acara. Untuk para tetangga yang
turut membantu dalam menyiapkan makanan untuk acara ini, biasanya makan bersama
(BEGIBUNG).
Sebelum prosesi, dipersiapkan terlebih dahulu
alat-alat yang digunakan nantinya dalam memotong rambut bayi. Seperti :
- Kolong kuninganKolong kuningan ini diisi dengan air (nantinya untuk mengusap rambut sang bayi), rampe (bunga-bungaan), uang logam. Kelong kuningan ini mengandung makna agar anak nantinya bisa menjadi seseorang yang berharga dan bermanfaat bagi orang lain.
- Gunting
- Kemaliq 2 helai (selendang panjang kecil)
Setelah tamu undangan dan para kiai telah lengkap
datang, maka ngurisan pun dimulai. Bayi digendong oleh ayah atau pamannya
memutar mengelilingi para tamu undangan dan ditemani oleh 2 orang kerabat, 1
orang membawa alat-alat yang telah disebutkan diatas, dan 1 orangnya lagi
membawa uang pecahan 2 ribuan atau 5 ribuan biasanya disebut SELAWAT yang
nantinya uang tersebut di masukkan ke kantong para tamu undangan yang ikut
serta dalam memotong rambut sang bayi. Tradisi ngurisan
dilakukan dengan cara memotong rambut bayi pada bagian ubun-ubun terlebih
dahulu oleh para tokoh agama sebagai simbol bahwa segala sesuatu yang tidak
baik yang dibawa dari dalam rahim sudah dibuang atau diangkat. Satu-persatu tamu undangan memotong sedikit demi
sedikit rambut sang bayi, rambut yang dipotong ini dimasukkan kedalam kolong kuningan
yang telah disediakan sambil membaca selakar.
Setelah usai prosesi memotong rambut bayi ini,
dilanjutkan dengan memotong KEMALIQ (selendang panjang sebanyak 2 helai) lalu
diikat dikepala sang bayi. Pemotongan dan pengikatan kemaliq ini sebagai tanda telah
selesai bekuris (BEKEKAH).Maka dilanjutkan dengan ZIKIR
Semua acara atau prosesi
ngurisan telah selesai dilakukan maka tamu
undangan disajikan dulang yang telah disediakan. 1 dulang untuk 3 sampai 4
orang. Dulang untuk penamat disiapkan 2 . Dulang penamat hanya berisikan
buah-buahan dan segala jenis makanan, berbeda dengan dulang yang disantap oleh
para tamu undangan usai zikiran. Dulang penamat ini nantinya akan dibagikan
untuk orang-orang atau tamu undangan yang ikut ngurisan untuk dibawa pulang.
Ternyata apabila kita cermati, banyak sekali hal-hal yang dapat kita pelajari dari tradisi ini. banyak nilai-nilai yang terkandung didalamnya, seperti :
1. Nilai sosial
Memperkuat
tali silahturahmi diantara anggota masyarakat, mempererat hubungan kasih sayang
antar individu masyarakat dengan turut hadir menikmati sajian, membuat sanak
kerabat, sahabat, tetangga dan keluarga berkumpul untuk sama-sama saling
mendoakan sang bayi, sebagai bentuk pengenalan orang tua bahwa anaknya menjadi
bagian dari masyarakat yang terikat, dan juga dalam tradisi ini juga terdapat
nilai gotong royong, dimana tetangga atau kerabat saling membantu dalam
mempersiapkan acara, dan mengurangi pengeluaran keluarga dengan datang membawa
beras atau gula.
2. Nilai Religi
Dilakukan ngurisan merupakan bentuk taqarrub (pendekatan diri) kepada
Allah, sebagai wujud rasa syukur atas karunia yang di anugerahkan Allah dengan
lahirnya sang anak, sebagai sarana menampakkan rasa gembira dalam melaksanakan
syariat islam, nilai kerohanian yang lain bisa terwujud dengan adanya zikir,
dan pembacaan kitab suci al-quran
3. Nilai Pendidikan
Melalui
akikah, anak diajarkan melalui pengenalan, pemahaman, dan penanaman nilai-nilai
keagamaan dalam tradisi akikah ini. Baik untuk pendidikan akhlak, pendidikan
keimanan, serta pendidikan social, sebagai wujud atau proses pengenalan
terhadap lingkungan masyarakat kepada anak sejak dini.
4. Nilai Ekonomi
Sebagai
jaminan dalam menghapus kemiskinan di masyarakat, dimana dalam aqiqah
memerlukan binatang aqiqah yang harus dicari melalui jalan bekerja sama,meningkatkan
gizi masyarakat karena hewan aqiqah yang telah disembelih dan dimasak
selanjutnya akan di sedekahkan dagingnya kepada para tetangga dan masyarakat
lainnya.
Teknik pengumpulan data : wawancara dan observasi di nyurlembang daye, dengan narasumber Budi Ayu. Pada hari Senin, 25 April 2015







0 komentar:
Posting Komentar